aku ingin pulang
namun aku tak tau dimana rumahku
aku ingin pulang
tapi aku tak tau harus mulai darimana
aku ingin pulang
pada kedamaian jiwaku
Februari 19, 2009
pulang
Diposting oleh Twinkle Stars di 14.55 0 komentar
Label: Puisi
Januari 11, 2009
yeS!! I caN
gaLz... hari ni, i do my amazing journey...
i weNt to towN square n met my fRieNd tHere, theN hUnting soMething that strange and unusual. ha.ha... I spent my time happily, after my friend back home, aq melakukan penjelajahan kecil, he.he.... waHHhhhh...the beautifull day n moment for me!! Thanks God, You have allowed me
Diposting oleh Twinkle Stars di 11.33 0 komentar
November 01, 2008
“See Deeper”
Now day, we confused by the government policy. So many policies that make controversial in our country, and education sector is one of the important part in our development progress for the next future. It should get more attention from us, because without ability and knowledge its too difficult to make advance in our country. And so possible that our country be chaotic.
When we see, the government just give allocate about 12,2% in 2008. Its increase 1,2% from 2007. although like that, I think its still not efficient / enough, because as we know the biggest portion of education sector progress with improve the country’s education budget were spent to finance the bureaucracy, its so confusing me!
Here, one of the reality that in our educational sector.
The high competition for high school graduates to enter the university. For about 393.000 high school graduates for being part of 96.066 that can receives in 56 state universities across the country.
Here, cell phones needed by three students (two girls and one boy) for help them to pass the test. The boy was caught trying to see the message from his phone to looking the answers. And the girls put the hands free under the headscarf and hidden the cell phone in the shirt pocket, also it hidden under the bandana.
Of course, its make us surprised to knows that our students were desperate and lost their confidence to pass the test to enter the state University.
Its possible if they do like that when we see the capacity that how many students were needed for / received as student in state Universities across the country.
So, not only the government should give the attention in education sector, but also parents, teachers, and other element in the community to improve our education’s quality.
Its time to make the better progress in our country, especially in education sector. Let’s make a change for our education’s sector progress with improve the country’s educational quality, repair damage education facilities and improve teacher training.
When the government’s plan to conduct the national exam for elementary or other grade, its better if the first thing that must be done is to see the quality of education, the there enough to do it, ready to do it. Like PDI-P legislator Cypranus Aoer said “it must also focus on process, which is fundamental to educate student. And this must be entrusted to schools, particularly the teaching staff”. He also said that like national exam for high school students, the planned national exam for elementary school student was against the goals of the county’s law in education.
(journal of me in the third semester)
Diposting oleh Twinkle Stars di 15.25 0 komentar
Label: Catatan
Oktober 06, 2008
Ketika Matahari, Awan, dan Bintang bertemu...
Udah lumrah kali ya kalo Matahari ma Awan ketemu, nah lho gimana jadinya kalo Matahari malah ketemu Bintang di siang hari?
Yups, ne cuma terjadi di dunia kecil dalam ingatan!
Hari itu, Sabtu 4 Oktober di tahun 2008, Matahari, Awan, ma Bintang ketemu di acara reuni mini kawan seangkatan 05. Seneng, tapi sedikit kecewa juga karena dua keajaiban alam lainnya tidak bisa hadir yaitu Bulan dan Pelangi yang hari itu lebih memilih acara penting lainnya, it's ok yang penting itu tidak mengurangi rasa persahabatan kami.
Pagi, sekitar pukul 07:45 da panggilan masuk, nomor baru, sapa ya...? Ternyata my friend,
"Ning, kamu dimana?"
"Masih di rumah"
"Ya ampun, nyampe jam berapa tuh, acaranya kan jam 8!"
"Ia, ni juga lagi siap-siap ko!"
"Ya udah, mpe ktemu disana ya.."
"Ya, masa ketemu disini, he.he.."
Ya udah, minta anter my UncLe, coz telat neh, mana tanganku masih agak sakit (kmaren bis kecelakaan-info).
"A, ngebut dikit ya, coZ temen-temen uda pada nunggu di Kwadanan.." pintaku ketika uda nyampe jalan raya, maklum rumah ortuku jauh dari peradaban! he.he..
"Sip!" jawab pamanku singkat
Tiba di Kwadanan.... (bersambung dlu ya, coZ da teLpn dari my sis minta kejelasan tiket, hhhhh)
Diposting oleh Twinkle Stars di 15.57 0 komentar
September 25, 2008
u9h....lagi-lagi

Terseret pada rutinitas yang mesti dirasa setiap kali hitungan waktu datang, sempat merasa bahwa ini semua tak adil dan menggugat atas suratan takdir. Hingga kadang terbesit pinta untuk sejenak hilang dan berganti posisi. Hingga Ibu pernah menegur
"jangan bilang begitu, ini adalah kemestian yang harus dialami, yang sabar ya..."
Kesabaran yang mesti diuji setiap waktu, namun, bukannya aku kuat, tapi aku selalu lemah dan tak kuasa menahan rasa sakit diseluruh sendi kehidupan! Rasa yang tak bisa kusandarkan pada kata (terlalu mendramatisir), tapi ini adalah kenyataan. Ada yang aneh, namun aku tak tau, setiap ia berganti aku mulai pulih dan berfikir bahwa esok ia tak akan ada lagi, namun, sampai hari ini semua selalu terulang. Banyak tanya yang ku layangkan pada semua orang, namun hanya gelengan kepala dan nada serupa. Aku ingin, esok yang akan datang, ia sudah tak bersamaku lagi.
Diposting oleh Twinkle Stars di 09.30 0 komentar
Label: Catatan
September 06, 2008
Kisah selembar daun
Akulah daun itu…
Aku selembar daun
Yang bergoyang tertiup angin
Tumbuh dengan harapan akan terus ada, setidaknya sampai esok hari
Meski aku tau, esok belum tentu ada untukku
Aku hanya memiliki hari ini, karena hari ini aku masih disini
Menggenggam kisah untuk diri ini saat ini
Mempertanggung jawabkannya hari kemudian
Akulah daun itu…
Yang tak ingin dipisahkan dari pohon kehidupanku
Meski aku tau itu akan terjadi, suatu hak
Bilakah tiba saatnya aku terjatuh gugur dan terpisah dari ranting
Adakah aku siap dengan semua itu?
Akulah daun itu…
Yang meniti mimpi dan harap saat ini
Menanti saat kehendakNya berlaku atasku
Akulah daun itu…
Diposting oleh Twinkle Stars di 11.21 0 komentar
Label: Puisi
Agustus 08, 2008
Sebagian ingatan
Kini baru aku menyadari kau begitu berarti di dalam hidupku ini
Saat-saat yang indah saat masih bersamamu waktu kita berdua dan mewanai dunia
Semua yang telah berlalu kini teringat lagi, kini terkenang lagi, ku ingin kembali,...
(Rama Band,)
Hal yang membuatku merasa bahagia adalah saat aku bisa membuat orang tersenyum bahagia dan menjadikan mereka bangga padaku. Ntahlah, namun itulah yang aku rasakan.
Waktu aku kecil, aku paling bahagia saat aku dipuji oleh Ibu. Entah karena hal apapun itu. Aku akan merasa sangat puas jika ibu memuji dan membelaku ketimbang mba’ Ray, satu-satunya kakak perempuan yang aku punyai. Mungkin karena jarak kelahiran kami yang tak begitu jauh, sehingga sering kali aku berselisih paham dengannya, bahkan terkadang ada perasaan iri padanya. Dan aku pikir ia pun sama, karena seingatku ia paling ga’ bisa ga’ kasih tau ibu kalo aku maen ma temen-temen aku. Yang kalo Ibu tau pastinya aku bakal diomelin. Makanya, ia sering ancem aku bakal bilang ke Ibu kalo aku ga mau nurutin perintahnya. Atau, dulu waktu kelas tiga-empat_an lah, aku dapet surat, eh... dijadiin alasan wat ia nyuruh-nyuruh aku dengan kesepakatan bahwa ia ga bakal bilang ma Ibu. Sialnya aku dulu, mau aja ngikutin permainannya. He.he.. tapi tetep, she is the best sister that I have (secara, she is the first daughter kale…). Ia adalah panutan bagi aku adeknya, menjadi sumber inspirasi di keluarga kami. She is so very smart, active, confidence, flexible, and, good sister meski kadang menjengkelkan.
Dulu, waktu masih kuliah di Serang (sekarang ambil pasca sarjana di UM), tiap kali pulang ke rumah bagi aku adalah petaka. Soalnya kalo ada di rumah begitu dateng pasti ngomel-ngomel dulu. Rumah yang berantakanlah, inilah, itulah, ada.. aja alasan wat nyuruh aku beresin semua. Padahal aku juga baru dateng dari sekolahan. Sama aja lelah. Tapi walo ngedumel ma uring-uringan tetep aja aku beresin semua. Soalnya kalo aku ngebantah ia, kadang ia suka nangis sambil ngomong “ia teteh mah emang ga bisa jadi kakak yang ginilah, gitulah…” yang pada akhirnya bakal bikin aku ga enak hati aja makanya, aku mengalah. Apa sich yang engga wat mba’ Ray..? he.he…
Lucu, kalo inget. Tapi dulu boro-boro lucu. Gedek banget tau, bahkan kadang aku kalo dimintai tolong gak mau. Sekarang kerasa deh, aku digituin ma adekku, yang paling susah ni adek aku yang paling kecil. Kalo dimintai tolong susahnya minta ampun, pake syarat pula.... cape dey... tau gak syaratnya apaan ?
To be continue ya…
Diposting oleh Twinkle Stars di 11.07 0 komentar
Label: Catatan
Agustus 05, 2008
Tak sekedar kata tanya
- Saatnya membuka lapangan kerja baru dengan meningkatkan keterampilan yang dimiliki setiap anggota masyarakat. Dengan melakukan kegiatan dalam mengasah dan memberikan keterampilan yang nantinya bisa menjadi bekal dalam menjalani usahanya. Dengan begitu akan membuka lapangan kerja baru yang akan menyerap tenaga kerja. Jadi bukan hanya mencari pekerjaaan dengan melamar dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Tapi dengan membuka peluang kerja baik itu industri kecil maupun rumah tangga.
- Dan saatnya masyarakat membuka mata dan lebih peka terhadap anggota masyarakat lainnya yang ada disekitar mereka. Karena mereka adalah bagian dari kita, dan merekapun perlu dihargai meski mereka berada dibawah kita. Mereka perlu diakui dan sangat butuh untuk diperhatikan.
Diposting oleh Twinkle Stars di 12.01 0 komentar
Label: Catatan
Agustus 04, 2008
Values of appearance
Langit begitu cerah tanpa ada segumpal awanpun nampak dari balik jendela bus yang kutumpangi dalam perjalanan pulang sore itu. Aku duduk sendiri di kursi dua deretan ke tiga dari pintu depan, tadinya aku duduk di kursi tiga deretan ke tiga dari belakang sejak dari terminal. Begitu tiba di Mengger penumpang mulai berkurang, aku pindah ke kursi dua, sebenarnya, aku paling suka jika duduk didekat jendela yang mengarah pandangan ke pegunungan di sebelah kanan bus jika hendak pulang. Karena semua kursi tiga rata-rata ada penumpangnya, maka akhirnya aku duduk disebelah kiri, meski dengan sedikit kurang nyaman, tapi aku masih bisa melihat pemandangan lain, dan menatap keluar jendela,
Bus terus melaju diatas jalan raya yang berliku dan berbelok dan sesekali berpapasan dengan bus lain yang menuju Serang dan Jakarta. Tiba di Pasar Maja yang memang terletak di kedua bahu jalan (sebenarnya itu hanya deretan toko-toko yang memang ramai karena memang perempatan jalan yang menghubungkan desa Cibiuk dengan Pusat Kota Pandeglang) tepat pukul 15.56, buspun berhenti untuk menurunkan beberapa orang penumpang. Lamunanku buyar, saat salah seorang pengamen bertubuh tinggi melintas disampingku, dan berdiri disamping kursi yang ada di depanku, kemudian membuka konser mereka dengan mengucapkan salam
“assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh...”
“wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh...” jawab pengamen satunya lagi yang memakai topi dengan suara yang sebenarnya biasa saja, namun begitu menusuk saat mendengarnya. Akupun terhenyak menyadari bahwa tak seorangpun di bus yang menjawab salam itu. Padahal, aku perhatikan bahwa mereka semua sedang terjaga dan tidak sedang tidur, tapi tak seorangpun membuka mulut untuk menjawabnya.
Miris, malu, heran, bercampur memenuhi ruang jiwa yang sepi sentuhan religi. Beginikah realitas yang terjadi dilingkup kecil ini? Suara pengamen itu terus mengalir menemani perjalanan pulang sore itu saat aku tersadar bahwa akupun tak menjawab salam itu!! Apa yang kulakukan sepanjang moment itu, kemana aku? Aku pikir aku menjawab salam itu dalam hatiku. Dan akhirnya aku menemukan keadaanku tak jauh beda dengan semuanya. Tapi saat itu aku sedang menahan rasa nyeri yang kurasa menyiksaku, sakit yang kupikir membunuhku secara pelan. Ini hari pertamaku. Ah, selalu mencari pembelaan! Aku tak bisa menikmati perjalananku, aku begitu sibuk dengan sensasi rasa yang aku rasa sendiri, aku ingin cepat sampai rumah dan merebahkan tubuhku agar aku bisa hilangkan kesadaranku.
Ketika aku diskusikan hal ini saat makan malam bersama keluargaku esoknya, ayahku berkata
“ya mungkin males lihat penampilan mereka yang kayak pemakai dan tukang mabok”.
“tapi kan jawab salam itu wajib” kata ibuku “dari siapapun, karena salam itu ya do’a...” lanjut ibu dengan bijak.
Malam itu aku menyadari dan berjanji dalam hati bahwa setiap do’a yang keluar dari orang lain adalah tetap do’a, bukan umpatan ataupun hinaan apalagi lelucon. Jadi, akan aku jawab selalu salam yang kudengar dimanapun itu.
Diposting oleh Twinkle Stars di 17.45 0 komentar
Label: Catatan
Juli 29, 2008
Lagi-lagi Lupa
aku lupa
entah dimana aku simpan hatiku
di titian pelangi, ataukah tong sampah
aku lupa
entah dimana aku labuhkan gelisahku
dihening malam, atau bisingnya siang
aku lupa
entah pada siapa jiwa ini ku abdikan
pada nafsu, ataukah aroma surgawi
aku lupa warna pelangi yang dulu begitu kukagumi
aku lupa pada birunya laut yang selalu kurindukan
aku lupa
entah jasad siapa ini
hingga aku hilang, hilang, dan selalu hilang
tolong, bantu aku...
Diposting oleh Twinkle Stars di 15.00 0 komentar
Label: Puisi
Juli 24, 2008
untuk ia
Wish you be the one and the best for me and I could be the one that can make you feel comfort. You see what I was to be. Try to keep my heart, my sadness, my sorrow, and all about me. Hold me when I need, accompany me in my life. Luv U
Diposting oleh Twinkle Stars di 21.47 1 komentar
Label: Catatan
Juli 15, 2008
dongeng sebelum lelap
bulan malam ini terang, meski tak utuh tapi ia indah buatku yang duduk termangu di balkon hijau tempat biasa ku melepas penat setelah seharian beraktifitas. yang menemaniku hanya alunan musik, sebuah buku, sebatang pena, dan senyapnya malam yang semakin beranjak. terbesit rasa inginku bisa merasakan saat yang tak bisa terulang kembali. akhirnya aku harus menyadari bahwa aku merindu saat-saat yang dulu mungkin aku benci,. saat aku ingin meleburkan tangis dan kecewa, selalu ada suara-suara nakal yang mengusikku, tangan-tangan nakal yang selalu mengetuk pintu saat aku lelah, tawa yang mentertawakan kekonyolanku, dan panggilan sayang yang selalu akan telinga, tentunya dengan penuh kemanjaan. hmmm...kini sudah tidak ada lagi, hal itu tak akan ada lagi. di sini, di tempat aku berdiri, beberapa saat yang lalu ramai oleh tingkah kenakalan, cemooh, dan tawa yang membelah malam, namun kini hanya ada aku. ada bintang jatuh! walau konyol, jika boleh meminta, aku ingin bertemu dan menghabiskan waktu bersama sekali lagi...karena, karena aku sangat ingin bersama. ijinkan aku berikan yang terbaik sebelum aku pergi.
Diposting oleh Twinkle Stars di 16.24 0 komentar
Juli 09, 2008
Lapar
Tak sedang ingin bergurau
Hanya lelucon yang mengawali mimpi malam ini
Tak akan pernah ada yang sama
Siapa yang bisa menjamin?
Bahkan seorang penguasapun takkan bisa!
Mengumbar janji
Palsu ataupun asli, tak murni
Hanya menjejali perut dengan omong kosong
Tak bisa puaskan hasrat yang tersirat
Lapar, tak pernah kenyang
Meski tangan berlumur darah
Beribu mata menyorot sinis dan sadis
Tetap saja lapar itu terasa menusuk lambung yang berontak
Sampai kapan?
Saat ajal tiba!
Namun, adakah jaminan lapar itu akan hilang?
Tidak!
Justru mungkin akan jadi diwariskan
Diposting oleh Twinkle Stars di 10.30 0 komentar
Label: Puisi
When I’m with mine only
All bad things can be coming up in one time in our daily life, so do with me, I suppose it. Yeah, cause of my childish sides that I couldn’t change although I’m 20 years old right now. Oh My God…!!! Its naturally when I feel so doubt and don’t know what must and what happened be done with my self. I dislike my life, I hate my self, and frankly I’ve ever felt it. Felt its so hard to be passed. I just try to believe that its will be okay, and I can survive in every things that I dislike in my life. But, did you know what happened in here, in my heart right now? Puff… I’m in not good position, I felt unhappy with the stories that written for me now. Really-really dislike and so dislike. I know its should not be like that, but it’s the fact, I felt it.
I need someone that could understand me and look me like me as my real, not in lie and doubt. Just make me feel comfort and have spirit to do my best, not only judges me and to force me could understand about you, I can’t, its hard for me without you say one word to me, although one word, did you know? Can you feel my sadness? Did you realize that I dislike it? You’re my choice that I wish can be my place to share and gather to fulfill weakness be power. So, now, did you know what happen with me here? What I fell? Could you hear me call you here? Just wanna see who you are, I can’t!
Diposting oleh Twinkle Stars di 10.28 0 komentar
Juni 24, 2008
Aku bagimu
Aku bukan embun yang menyejukkan
Aku bukan hujan yang bisa membasuh derita bumi
Aku bukan air yang mampu menghilangkan haus
Bukan aliran sungai yang kan membawa harap menuju samudra
Aku hany bisa berharap, itulah aku bagimu
Diposting oleh Twinkle Stars di 12.37 0 komentar
Label: Puisi
Hilang
aku pernah kehilangan
menyakitkan!
siapa yang mau?
lantas hendak kemana aku alirkan cerita
saat tiada seorangpun bersamaku?
haruskah menyesali ucap yang pernah ada?
engkau ada dimana kini?
Diposting oleh Twinkle Stars di 09.52 0 komentar
Label: Puisi
Juni 23, 2008
Karena Engkau adalah seorang Ibu
Perjalanan pulang kali ini serasa tak ada yang berbeda dengan kepulanganku sebelum-sebelumnya, semua sama pada awalnya. Aku menunggu bus lewat di lampu merah Ciceri, karena kalo sore bus bisa masuk
Kursi bus ternyata sudah penuh penumpang hingga ada beberapa penumpang yang berdiri, tentu aku adalah salah satunya. Sempat berangan akan ada orang baik yang menawarkan tempat duduknya seperti minggu kemarin, karena aku terlalu lama berdiri. Namun aku tau hari ini tak ada. Karena mayoritas penumpang adalah perempuan, dan hanya beberapa orang pria. Aku coba menikmati perjalanan pulangku dengan memusatkan perhatianku melihat keluar jendela, menikmati suasana sore hari yang cerah, penumpang semakin bertambah sehingga akupun bergeser semakin tenggelam dalam deretan kelelahan penghujung hari yang melelahkan. Saat jiwaku sedang keluar dari situasi disekitarku, aku disadarkan oleh pembicaraan penumpang yang berdiri disampingku. Ia sedang berbicara dengan seorang wanita yang menggendong bayinya di kursi dibelakangku. Dengan reflek aku menoleh kebelakang karena mendengar godaan perempuan itu pada si bayi. Aku terkesiap, tertegun saat melihat bayi itu, sungguh lucu, sangat lucu. dengan lincahnya si bayi bergerak dan ngoceh serta lirikan matanya yang sangat indah dan menggemaskan serta beningnya mata itu. Sungguh bayi yang imut. Dengan pipi chubby dan kulit bersihnya ia membuat aku ingin menyentuh dan mencubit pipinya. Sang ibu terlihat begitu senang dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya serta meladeni pertanyaan penumpang disampingku tadi.
Tanpa aku sadari bagaimana mulanya, yang aku tau, aku telah turut gabung dengan pembicaraan dua wanita itu. Dari
Begitu mulia hati seorang ibu. Hati yang penuh kelembutan dan cinta kasih. Cinta yang tak akan padam sepanjang masa, cinta yang tak bersyarat, cinta yang tak pernah lelah, ia selalu menerangi disetiap denyut kehidupan. Belaian lembut seorang ibu, curahan kasihnya, adalah sumber kehidupan bagi anaknya. Kebahagiaan seorang ibu adalah ketika melihat anaknya tersenyum bahagia, meski lelah mendera tubuhnya. Teringat kisah Siti Hajar yang berlari antara bukit Shafa dan Marwa untuk mencari setetes air di tengah gurun pasir yang tandus dan sepi, yang tak ada orang lain disana untuk anaknya yang kehausan. Betapa perjuangan seorang ibu sungguh teramat mengagumkan, keagungan seorang ibu yang tak ada gantinya.
Aku jadi ingat ibuku di rumah. Ia adalah wanita terbaik yang Tuhan beri untuk menjadi ibuku. Ibu akan melakukan apapun untuk aku, anaknya. Tak peduli bagaimana dengan dirinya, yang ibu pikirkan adalah bagaimana anaknya. Namun aku sering kali melukainya dengan sikap egoku dan kenakalanku. Ah, mulianya hatimu ibu. Ketulusan dan kasih sayangmu membuat aku tak berati apa-apa, aku tak akan bisa apa-apa tanpa dirimu. Betapa seringnya aku tanpa hal yang jelas membuat suasana di rumah tak nyaman, namun dengan kesabaranmu, engkau mencairkan endapan emosiku yang labil. Membawaku pada suasana yang membuat aku terus ingin bersamamu. Maafkan aku yang tak pernah peduli dengan kelelahanmu, air mata yang mengalir dalam do’a kudus disetiap munajatmu pada-Nya. Mom, I Luv U so much.
Untuk usia yang masih tersisa dalam hembusan nafas yang masih ada
Demi cinta yang mendera jiwa dalam rindu yang menggebu
Aku, ikrarkan
Akan ku baktikan seluruhnya untukmu
Karena engkau adalah seorang Ibu
Dan aku, calon seorang Ibu
Diposting oleh Twinkle Stars di 15.25 0 komentar
Label: Catatan
Juni 09, 2008
Aku dan sepiku
Jangan kau tanyakan lagi kabarku, begitupun hatiku
Karena tak akan ada yang kan terucap, karena sungguh pun kau tau, tak ka nada yang berubah
Sesal ini membangunkanku dari mimpi yang melenakan
Meski merobek sketsa yang sempat tergores dalam jiwa
Hanya bisa terdiam
Adakah kau tau, dalam diam aku berkata, dalam hening ku bercerita
Hingga hanya bisa terdengar oleh desir angin.
Aku sendiri, dalam sempitnya jiwa yang terlena.
Rabu, 21 Mei 08
Diposting oleh Twinkle Stars di 11.18 0 komentar
Label: Puisi
Mei 21, 2008
Yang kami tau
100 tahun sudah katanya
62 tahun sudah katanya
10 tahun sudah, katanya Reformasi diusung
Yang kami tau,
Yang kami tau, Negeri ini masih terjajah
Yang kami tau, tak banyak yang berubah
Air mata darah tak cukup kah mengganti damai yang dinanti?
Anyir peluh derita tak cukupkah menghapus derita panjang ini?
Tak cukupkah beribu raga yang terpisah untuk membeli harga kemerdekaan?
Lantas, harus dengan apa kami menebus harga demi esok hari?
Bagaimana kami titipkan masa depan pada anak kami?
Apa yang kami wariskan pada anak kami esok?
Deritakah? Kelaparankah? Kebodohankah? Permusuhankah?
Aku tak ingin anakku menanggung akibat dari ego orang tuanya
Demi senyum esok hari anakku,
Cukuplah kisah duka sampai hari ini saja!
Diposting oleh Twinkle Stars di 20.15 0 komentar
Label: Puisi
Forgive Me...
Tuhan, ampuni aku yang telah menyimpan sebuah nama dalam hatiku
Tuhan, ampuni aku yang telah mengingat sebuah nama dalam segalaku
Tuhan, ampuni aku yang telah merindu sebuah nama dalam waktuku
Tuhan, ampuni aku yang telah mengharap sebuah nama dalam hidupku tuk menemaniku
Diposting oleh Twinkle Stars di 20.13 0 komentar
Label: Puisi




